HALO......
cerpen ini adalah kisah nyata yang pernahku lalui. kalo lucu ya alhamdulillah kalo engak ya maaf namanya juga baru belajar. Ha....Ha....Ha
Selamat Membaca
Insiden
Kakek Tetangga
Silvia Okta N.S
Sebenarnya aku tak suka berada di tempat seperti ini,dengan bau
obat-obatan yang menusuk hidungku,sehingga membuatku sulit bernafas.
Sampai-sampai cara nafasku mirip ikan lohan yang sedang makan di air.
“GOLLL…..”
“Ini Rumah
Sakit atau acara nonton bareng piala dunia?”. Pikirku heran sambil
garuk-garuk kepala yang belum keramas sejak kemaren. Aku tak tahu darimana
datangnya gerombolan orang-orang aneh itu.
“Nonton
bola kok di Rumah Sakit?”. Mungkin
mereka memanfaatkan fasilitas Rumah Sakit atau menjenguk sanak saudara sambil
nonton bola. Itung-itung nonton bola di tv LCD 21in dengan gambar yang jernih
dan gratis pula. Daripada nonton dirumah dengan fasilitas seadanya,tv cembung
ukuran 12in dengan gambar ala kadarnya ditambah banyak semut hitam yang
bergelombol di tv,kalo orang jawa nyebutnya “BUREK”.
“Mau minum mbah?”. Tanyaku sembari menawari kakekku yang terbaring
sakit di ranjang.
“Ya,nduk
setengah gelas aja”.
Kutuangkan air mineral secara perlahan kedalam gelas,dengan gaya ala chef Farah
Qween yang sering nongol di tv.
“Uhuk-uhuk”. Suara
itu mencuri perhatianku. Seorang kakek yang mungkin umurnya sedah
kepala-8,sedang berbaring sakit disamping ruang kakekku yang hanya dipisah
dengan sebuah korden. Kuperhatikan kakek itu dengan seksama,dari ujung rambut
yang bisa kuhitung dengan jari sampai
ujung kaki eksotisnya.
Menurut analisaku“ Oh mungkin kakek ini sakit
diabetes karena kakinya hitam sekalee”. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Rasanya mata ini
seperti lampu 5 wath yang hampir mati,mendrip-mendrip.
“Uuuaaahhhh……”
“Ngantuk
vi?,tidur
aja gak papa”. Tanya
tanteku menawari untuk tidur terlebih dahulu. Akhirnya kami tidur seperti ikan
asin yang sedang dijemur jejer-jejer.
Disaat mata ini mulai terlelap dan hanya terdengar bunyi detik jam. Kubuka
mataku secara perlahan sembari mencari posisi yang nyaman.
“Astaqfirullah……” dengan
sigap aku langsung duduk termenung melihat tangan yang tergantung di atas
kepalaku. Setelahku selidiki asal-usulnya ,ternyata tangan itu adalah tangan
milik kakek sebelah. Setelah beberapa menit merenung,kucoba menutup mata dan
kembali tidur,walau masih ada rasa was-was dalam hati.
“BRUUKKKK….”
“Apaan tuh?” gumamku
dalam hati. Semua orang terbangun mendengar suara itu.
“Masyaallah
kakek sebelah lagi” dengan
mata melolong dan mengelus-elus dada. Ternyata tidak kita sangka,sang kakek
telah terjun bebas dari ranjangnya sehingga menimpa sang menantu yang ada
disebelahnya.
“Ya
Allah,kuwe ki mek opo?”. Tanpa
disadari sebuah tipas bambu melayang ke muka sang kakek yang tak berdosa.
Layangan kipas itu membuktikan betapa kesalnya sang menantu terhadap ulah
ayahnya.
Setelah saya analisi dari bukti-bukti dan saksi yang ada. Ternyata kakek
tetangga itu punya penyakit darah tinggi dan jablay. Itu tu sang kakek suka
kalo liat cewek cantik.
Disaat aku dan tanteku akan
melanjutkan tidur kami.“Seettssssss…..seetttttssss……setttsssss……”
“SEETTTSSSSSSSSSSS………” sahut
tanteku karena terlalu kesal dengan ulah sang kakek. Tapi tak
disangka,pertandingan ini malah naik ke level yang lebih menegangkan.
“He..he…he..
mbak mbak’e mbak mbak’e….” Ocehan
sang kakek malah gak karu-karuan. Sungguh kakek yang malang.
Saatku lihat jam menunjukkan pukul setengah 2 pagi. Saatku baringkan
tubuhku sambil melihat sinar lampu diatasku. Tiba-tiba korden itu terbuka.
Terlihat wajah sang kakek tetangga yang keriput dengan mata melolong. Beberapa
detik kedua mata kami saling bertatapan,tak tau apa yang harus dilakukan. Dengan sigap aku tutup
korden itu dengan cepat kilat. Hatiku rasanya campur aduk antara kaget dan
was-was. Rasa kantukku terkalahkan dengan rasa was-was yang selalu menghantui.
Melihat tingkah laku sang kakek tetangga yang anehnya diluar batas. Tak lama
kemudian terlihat tangan kakek ingin mencoba membuka korden dari sebelah kiri.
Dengan sigap ku tahan dengan tanganku dan ku pegang erat-erat korden itu.
“Ha ha ha
anda tak akan bisa” kataku
senang didalam hati. Tapi kakek itu malah berusaha membuka korden sebelah
kanan. Dengan sigap tanganku juga memegang erat-erat korden sebelah kanan. Pada
saat itu terjadilah sebuah kompetisi tarik-menarik korden,antara aku dan kakek
tetangga.
“Aku masih
muda dan sehat,sedangkan anda sudah tua dan sakit-sakitan. Pasti aku yang akan
menang,semangat” kataku
sembari menyemangati diri-sendiri. Pertandingan ini berlangsung beberapa menit
dan pemenangnya adalah Saya.
Malam itu aku berusaha untuk tidak tidur. Akan tetapi mata ini sudah tak
bersahabat lagi. Pagi ini sekitar pukul 5 pagi aku bangun dan hanya tidur
selama 2 jam karena insiden semalam. Terlihat kantung mataku sudah menyerupai
anak panda yang ada di kebun binatang.
“Uahhhhh….”.
terdengar suara gaduh diluar
“Masyaallah
kakek itu lagi” kali ini
ia akan melawan suster rumah sakit
“Lho pak
mau kemana? bapak
tiduran diranjang saja,mari saya antar”.
Ku lihat sang menantu masih tertidur tanpa tau kalau ayahnya kabur.
Dengan sigap ku bangunkan bapak tersebut.
“Pak,bapak,itu
pak,kakeknya keluar”sambil
kuelus-elus lengan sang bapak yang memakai jaket kulit berwarna coklat itu.
“Pak,kakeknya
keluar pak” masih
taka ada tanggapan.
“Pak,kakeknya
keluar” bapak
itu hanya duduk termenung,tak tau apa yang sedang dipikirkannya.
“Bapak ini
gak papa tho? tau
ayahnya kabur kok diem aja”tanyaku
dalam hati. Sekian detik aku tunggu bapak itu bangkit dari duduknya,dan
akhirnya bapak itu bangkit juga
“Udah aku
mau pergi,panggil saja anak-anakmu yang lain,jangan nyusahin aku terus,malu aku
disini”
“Lho mau
kemana kamu kalo kamu pergi aku sama siapa”
Langsung sang kakek keluar dan masuk ke kamar pasien lain. Ketika sang
kakek ngamuk
“Heeeyyy..jangan
duduk disitu,itu tangan baru dioprasi semalam” jerit tanteku yang was-was
melihat tangan yang masih bengkak dan
diperban itu diduduki sang kakek. Akhirnya sang kakek dibawa ke kamarnya
oleh pihak rumah sakit.
Hari ini aku senang karena akan pulang dan tidak melihat tingkah laku
kakek tetangga yang malah gak karu-karuan. Dua hari aku tidak ke Rumah Sakit,di
kabarkan sang kakek tetangga sudah pulang. Aku tak tau apakah ia dipulangkan
atau pulang sendiri. Didepan beranda rumah aku malah memikirkan nasip sang
kakek.
“Semoga
anda sehat selalu kek”